Saturday, 21 February 2015

Jika Aku Menjadi Penyadap Kelapa

Hasil KKN 2015, here it is!



        Saya menjalani KKNM di Desa Limusgede. Desa Limusgede terletak di Kecamatan Cimerak Kabupaten Pangandaran. Jarak tempuh dari kecamatan ke Desa Limusgede sekitar 8 kilometer atau 10 kilometer dari pesisir pantai sehingga tanaman kelapa merupakan komoditas yang paling diminati. Hal tersebut terjadi karena cuaca tropis daerah pesisir yang cocok bagi kelapa untuk tumbuh. Penyadap kelapa pun menjadi pekerjaan yang paling tepat untuk digeluti di daerah ini.
            Para penyadap mengambil nira dengan cara memanjat kelapa tanpa pengaman. Banyak warga desa yang meninggal karena jatuh dari ketinggian. JIKA SAYA MENJADI PENYADAP KELAPA, pengaman harus tetap dipakai untuk menghindari kecelakaan. Apalagi dengan adanya fakta bahwa rumah sakit terdekat berada di Kota Banjar (kurang lebih 2,5 jam menggunakan mobil).
           Nira diambil dari bakal buah kelapa yang ditampung dengan menggunakan jerigen. Butuh waktu cukup lama untuk mengisi penuh satu jerigen. Banyak sekali kontaminan yang akhirnya tercampur dalam jerigen seperti serangga, semut, dan lain-lain. JIKA SAYA MENJADI PENYADAP KELAPA, saringan dengan ukuran 100 mesh akan digunakan sehingga kontaminan menjadi berkurang.
            Nira kelapa kemudian dimasak menggunakan wajan besar dengan api dari kayu bakar. Tempat pengolahan terletak di kebun yang banyak didatangi ayam. Selain itu, sangat terlihat bahwa tempat pengolahan tidak higienis, terbukti dengan banyaknya sampah yang tidak dibuang pada tempatnya. JIKA SAYA MENJADI PENYADAP KELAPA, setidaknya tempat sampah akan disediakan. Tempat pengolahan akan dibangun dengan layak, tidak hanya menggunakan dinding bambu sebagai pembatas.
            Pemasakan dilakukan selama kurang lebih 5 jam atau sampai nira kelapa menjadi padatan berwarna merah kecoklatan karena adanya proses karamelisasi. Akibat dari proses tersebut adalah kerak yang didapat pada permukaan wajan. JIKA SAYA MENJADI PENYADAP KELAPA, wajan akan saya ganti dengan bahan yang tahan kerak sehingga pencucian dapat dilakukan dengan lebih mudah.
            Masalah terbesar dalam proses pembuatan gula merah di Desa Limusgede adalah adanya penambahan natrium benzoat. Natrium benzoat sebenarnya banyak digunakan pada industri pangan seperti pada mie instan. Bahan ini digunakan untuk menambah umur simpan pada bahan pangan. Namun, pada pengolahan gula merah di Desa Limusgede, penambahan dilakukan tanpa mengetahui kadar maksimalnya pada bahan pangan. Penggunaan natrium benzoat pada pangan tidak boleh melebihi 0,1%. Apabila melebihi kadar yang disarankan, tentu saja efek negatif yang didapatkan seperti timbulnya penyakit kanker karena bahan tersebut bersifat karsinogenik.
            JIKA SAYA MENJADI PENYADAP KELAPA, akan digunakan bahan alami sebagai pengawet pada gula merah. Cara yang paling sering digunakan oleh warga desa adalah penggunaan abu batang nangka. Namun, cara tersebut dianggap kurang efektif oleh warga desa karena perlu waktu yang lebih lama dalam pengolahannya. Hal tersebut dapat terjadi karena adanya getah yang memperlambat proses pemasakan.
Cara lain yang dapat dilakukan adalah menggunakan daun sirih dan buah manggis. Menurut saya, cara yang paling efektif adalah menggunakan daun sirih. Daun sirih mudah untuk ditumbuhkan di daerah tropis seperti Indonesia. Dengan menggunakan daun sirih, warna yang dihasilkan menjadi lebih cerah dengan tekstur yang baik dibanding menggunakan natrium benzoat.
Harapan saya untuk pengolahan gula merah di Desa Limusgede sangat besar. Desa Limusgede termasuk pemasok gula merah terbesar seluruh Indonesia. Semoga pengolahan gula merah menjadi lebih higienis dan bebas dari bahan tambahan makanan yang berbahaya sehingga menambah nilai jual dan siap dipasarkan ke luar Indonesia untuk kesejahteraan warga Desa Limusgede.