Tuesday, 29 April 2014

Satu Desa Satu PAUD

Artikel ini saya buat dan dimuat di Sumedang Ekspres hari Senin tanggal 21 April 2014 pada rubrik "Mahasiswa Bicara" -> meski gue ketinggalan beli korannya hahaha pdhl ini pertama kalinya dibuat. Sebenarnya saya buat untuk ikut lomba, tp deadline ga kekejer hahaha. So, check this out!

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sekarang menjadi perhatian serius bagi pemerintah. Program “Satu Desa Satu PAUD” tentu saja merupakan angin segar bagi masyarakat khususnya orang tua yang mempunyai anak usia 4-6 tahun. Kemendikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) bahkan sudah mendirikan Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUDNI).
Program ini perlu didukung karena mendidik anak memang vital untuk dilakukan. Pendidikan harus dimulai sedini mungkin. PAUD bukanlah tempat di mana anak hanya bermain dan bernyanyi. PAUD menjasi tempat di mana anak-anak berkembang dalam hal intelektual, emosional, maupun spiritual. Anak-anak diajarkan untuk membaca, menulis, dan berhitung. Anak-anak juga memiliki teman sepermainan apabila mengikuti pendidikan usia dini. Murid TK (Taman Kanak-kanak) tentunya diajarkan untuk berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa sebelum dan sesudah kegiatan. Hal tersebut dirasa penting terutama di zaman modern ini saat orang tua bekerja di luar rumah.
Satu desa satu PAUD dapat mendorong anak-anak untuk mempunyai kemauan belajar untuk tingkat yang lebih tinggi. Tentu saja hal ini didukung dengan adanya program pendidikan gratis wajib belajar 9 tahun. Gabungan kedua program tersebut dapat membuat anak memiliki semangat untuk sekolah setinggi mungkin. Keuntungan lain adalah orang tua dengan pemikiran “kolot” kini mulai membuka pikiran dan mendukung anak untuk bersekolah.

Penulis sebagai mahasiswa hanya berharap dan mendukung program ini berjalan dengan baik. Semoga setiap desa minimal memiliki satu PAUD sehingga tidak ada lagi kesenjangan dalam hal pendidikan. Pendidikan diharapkan dapat menjangkau lebih luas menuju Indonesia yang lebih pintar.

Thursday, 10 April 2014

BAK-SO



Penulis sering diajak sama temen buat makan makanan yang satu ini, apalagi kalo ujan. Daging bulet-bulet yang sekarang udah banyak isinya mulai dari telor sampai keju. Yea, BAKSO! Siapa sih yang ga suka bakso? Sekarang bakso udah bisa dinikmatin semua kalangan. Tinggal pilih mau di pinggiran, mamang-mamang lewat, atau restoran bagus yang mahal? Bakso tuh sebenernya asli dari Indonesia apa bukan sih?

Well, faktanya bakso berasal dari kata “bak-so” dari bahasa Hokkien. Setau penulis, bahasa Hokkien itu kaya bahasa Sunda-nya bahasa Indonesia. CMIIW. Jadi, semacem bahasa salah satu suku dari Cina. Zaman sekarang, bahasa Hokkien sering banget dijumpai kalo kamu-kamu pergi ke daerah Sumatera, contohnya Batam. Back to topic, “bak-so” itu artinya “daging babi giling”. Nah lo!

Awal abad ke-17, akhir Dinasti Ming, hidup seorang pria bernama Meng Bo di Fuzhou. Meng Bo dikenal sangat baik dan berbakti kepada orang tuanya. Suatu hari, ibunya yang sudah mulai tua ga bisa makan daging lagi karena giginya sudah ga mendukung. Meng Bo sedih karena ibunya sangat suka makan daging.

Sepanjang malam Meng Bo duduk, memikirkan bagaimana mengolah daging yang bisa dimakan ibunya. Inspirasi datang ketika ia melihat tetangganya menumbuk beras ketan untuk kue mochi. Meng Bo langsung pergi ke dapur dan mengolah daging dengan cara yang digunakan tetangganya. Setelah daging empuk, Meng Bo membentuknya menjadi bulatan-bulatan kecil sehingga ibunya dapat memakannya dengan mudah. Ia merebus adonan itu, tercium aroma daging yang lezat -> jadi laper *ngences* :P

Meng Bo memberi produk unggulannya *ceileh* kepada ibunya. Ibu merasa gembira karena tidak hanya lezat, tapi juga mudah dimakan. Meng Bo sangat senang melihat ibunya makan daging lagi. Berita tentang makanan ini menyebar cepat ke seluruh kota Fuzhou. Penduduk berdatangan terus menerus untuk belajar membuat bakso yang dibuat Meng Bo. Resep terus menyebar dari keluarga ke keluarga lain, kota ke kota lain, bahkan sampai Indonesia!

Di Indonesia tentu saja rasa dan bahannya disesuaikan dengan budaya. Bakso di sini kebanyakan dibuat dari bahan yang halal seperti sapi atau ikan. Perkembangan bakso pun berkembang pesat, penuh dengan inovasi-inovasi kreatif. Mungkin setelah membaca artikel ini ada yang niat bisnis bakso? Yang pasti semua jadi pengen makan bakso kaaan? Hehehe... [SMP]

Saturday, 5 April 2014

Penerapan IQ, EQ, dan SQ dalam Dunia Pendidikan dan Contohnya

Setiap manusia memiliki dua potensi pikiran, yaitu pikiran rasional dan pikiran emosional. Pikiran rasional digerakkan oleh kemampuan intelektual atau yang popular dengan sebutan “Intelligence Quotient” (IQ), sedangkan pikiran emosional digerakkan oleh emosi (Goleman, 1995). EQ merupakan serangkaian kemampuan mengontrol dan menggunakan emosi, serta mengendalikan diri, semangat, motivasi, empati, kecakapan sosial, kerja sama, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan (Misbach, 2013).

Dunia pendidikan kebanyakan menjadikan IQ sebagai tolak ukur utama. Pelajaran-pelajaran yang diajarkan memang merupakan penerapan untuk meningkatkan IQ seseorang. Penerapan EQ dalam pendidikan juga sudah dijalankan dengan adanya komunitas atau organisasi. EQ terkadang tidak dijadikan tolak ukur, terbukti dengan adanya Ujian Nasional yang menjadi satu-satunya syarat kelulusan. Kesuksesan seseorang sebenarnya tidak hanya diukur oleh IQ saja, EQ terbukti lebih berpengaruh.
           
Tidak hanya IQ dan EQ saja yang perlu dibina, ada pula Spiritual Quotient (SQ). SQ adalah kecerdasan yang berperan sebagai landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif (Misbach, 2013). Penerapan SQ juga sudah diterapkan dengan adanya organisasi untuk masing-masing agama di sekolah dan kampus.
           
Penerapan sudah dijalankan dengan baik. Hal yang perlu dibenahi adalah bagaimana cara agar orang-orang dapat menyeimbangkan IQ, EQ, dan SQ melalui dunia pendidikan. Ada baiknya setiap pribadi yang ada di dunia pendidikan, terutama yang dijadikan panutan, dapat memberi contoh dan mampu menasihati dengan cara yang baik. Hal yang paling penting adalah adanya kasih tanpa pamrih untuk membimbing dan saling belajar dalam berbagai aspek kehidupan.

Daftar Pustaka:
Goleman, Daniel. 1995. Why It can Matter more than IQ. New York: Bantam Books.
Misbach, Ifa Hanifah. 2008. Antara IQ, EQ, dan SQ. Bandung: Jurusan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia.

Olahraga untuk Pembangunan dan Perdamaian

Olimpiade untuk pertama kalinya diselenggarakan pada tanggal 6 April 1896 di Athena, Yunani. Tanggal tersebut pada tahun 2013 ditetapkan sebagai Hari Olahraga dan Aktifitas Fisik Internasional oleh Majelis Umum PBB. Tahun ini, 2014, peringatan hari tersebut dirayakan sebagai Hari Olahraga Internasional untuk Pembangunan dan Perdamaian (International Day of Sport for Development and Peace).

Olahraga ada bukan untuk saling membenci dan menyerang. Tujuan dari olahraga lebih baik daripada hal tersebut. Memang di setiap pertandingan ada pihak yang menang dan kalah. Kita harus menyerang lawan kita pada saat pertandingan agar meraih kemenangan. Olahraga sebenarnya mengajarkan kita untuk bersikap sportif, tidak sombong ketika memenangkan pertandingan dan tidak putus asa pada saat mengalami kekalahan. Apabila kita dapat bersikap sportif, hal ini menunjukkan bahwa pembangunan diri kita telah baik.

Media banyak menampilkan adanya perkelahian, terutama pada pengemar klub tertentu, yang menggambarkan bahwa olahraga dapat menimbulkan perpecahan. Hal tersebut tidak akan terjadi apabila kita bersikap sportif. Olahraga justru dapat membawa perdamaian. Sebagai contoh, tentu saja masyarakat akan lebih bersatu dalam mendukung negara masing-masing pada saat pertandingan olahraga berlangsung. Pertandingan olahraga, seperti Olimpiade, juga dapat mempersatukan banyak negara. Semua negara bergabung tanpa memikirkan kepentingan masing-masing.

Marilah kita peringati Hari Olahraga Internasional dengan semangat dan sprotifitas yang tinggi untuk mencapai pembangunan dan perdamaian. Salam olahraga!