Artikel ini saya buat dan dimuat di Sumedang Ekspres hari Senin tanggal 21 April 2014 pada rubrik "Mahasiswa Bicara" -> meski gue ketinggalan beli korannya hahaha pdhl ini pertama kalinya dibuat. Sebenarnya saya buat untuk ikut lomba, tp deadline ga kekejer hahaha. So, check this out!
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sekarang menjadi perhatian serius bagi pemerintah. Program “Satu Desa Satu PAUD” tentu saja merupakan angin segar bagi masyarakat khususnya orang tua yang mempunyai anak usia 4-6 tahun. Kemendikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) bahkan sudah mendirikan Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUDNI).
Program ini perlu didukung karena mendidik anak memang vital untuk dilakukan. Pendidikan harus dimulai sedini mungkin. PAUD bukanlah tempat di mana anak hanya bermain dan bernyanyi. PAUD menjasi tempat di mana anak-anak berkembang dalam hal intelektual, emosional, maupun spiritual. Anak-anak diajarkan untuk membaca, menulis, dan berhitung. Anak-anak juga memiliki teman sepermainan apabila mengikuti pendidikan usia dini. Murid TK (Taman Kanak-kanak) tentunya diajarkan untuk berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa sebelum dan sesudah kegiatan. Hal tersebut dirasa penting terutama di zaman modern ini saat orang tua bekerja di luar rumah.
Satu desa satu PAUD dapat mendorong anak-anak untuk mempunyai kemauan belajar untuk tingkat yang lebih tinggi. Tentu saja hal ini didukung dengan adanya program pendidikan gratis wajib belajar 9 tahun. Gabungan kedua program tersebut dapat membuat anak memiliki semangat untuk sekolah setinggi mungkin. Keuntungan lain adalah orang tua dengan pemikiran “kolot” kini mulai membuka pikiran dan mendukung anak untuk bersekolah.
Penulis sebagai mahasiswa hanya berharap dan mendukung program ini berjalan dengan baik. Semoga setiap desa minimal memiliki satu PAUD sehingga tidak ada lagi kesenjangan dalam hal pendidikan. Pendidikan diharapkan dapat menjangkau lebih luas menuju Indonesia yang lebih pintar.