PLURALITAS sudah ada
di negara kita dari masa lalu, sekarang, dan akan terus sampai masa yang akan
datang. Banyak aspek pluralitas di negara kita tercinta, Indonesia, baik dalam
hal agama, suku, budaya, bahasa, dan lain sebagainya. Namun yang menjadi permasalahan
adalah adanya OKNUM atau sekelompok orang yang sering kali menganggap diri
paling benar dan orang lain selain yang sepaham dengan dirinya tidak benar. Hal
tersebut tidaklah baik karena pluralitas tidak bisa kita hindari. Yang harus
kita lakukan adalah saling MENGHARGAI. Ada pepatah yang menyatakan bahwa untuk
bisa dihargai, harus menghargai terlebih dahulu. Sikap ini sudah diajarkan
melalui pelajaran Budi Pekerti namun tetap saja tidak berjalan dengan baik. Apa
yang salah? Tentunya hal-hal yang dialami manusia dari kecil hingga dewasa.
Dalam hal ini, peran ORANG TUA sangatlah penting. Ketika tumbuh dewasa bahkan
orang tua pun terkadang tidak menyetujui pernikahan anaknya yang berbeda.
Secara tidak langsung orang tua mengajarkan bahwa berbeda itu kurang baik.
Padahal tidak ada yang salah. Kita adalah manusia yang sepatutnya menghargai
adanya perbedaan karena semua manusia diciptakan sederajat. Apabila sikap
menghargai sudah ada di tiap-tiap warga negara Indonesia, saya yakin pluralitas
bukanlah hal yang memecah kita, justru mempersatukan kita. Kita bangga untuk
hidup di negara yang penuh perbedaan namun tetap bersatu. Bhinneka Tunggal Ika!