Saturday, 31 May 2014

Lingkungan di Tangan Penduduk Indonesia


Gambar 1. Penduduk Indonesia.
(health.detik.com, 2011)

Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk ke-4 terbanyak di dunia setelah Cina, India, dan Amerika Serikat. Hal ini seperti dua sisi koin. Kedua sisi tersebut tidak bisa dipisahkan dan harus dihadapi. Satu sisi merupakan keuntungan, sisi lainnya adalah kerugian. Keuntungan yang Indonesia dapat adalah adanya sumber daya manusia yang mendukung untuk pertumbuhan negara dalam berbagai bidang. Kerugian yang didapat adalah sulitnya negara Indonesia untuk mencukupi kebutuhan hidup penduduk.

Salah satu cara untuk mencukupi kebutuhan hidup penduduk adalah mendirikan dan mengembangkan industri di berbagai bidang. Industri yang berkembang memang menguntungkan, terutama dalam bidang ekonomi. Namun, sama seperti jumlah penduduk Indonesia, ada kerugian yang terjadi. Kerugian yang terjadi karena industri adalah dampaknya terhadap lingkungan. Lingkungan Indonesia yang penuh dengan sumber daya alam dapat rusak dengan adanya pengalihan fungsi lahan akibat industri. Kerugian lain adalah limbah yang dihasilkan industri terkadang tidak sesuai dengan aturan dan merusak lingkungan.

Gambar 2. Penebangan Hutan.
(finance.detik.com, 2014)

Solusi yang dapat dilakukan adalah adanya aturan yang harus dijalankan dengan baik. Indonesia sudah mempunyai syarat-syarat pendirian pabrik, mana lahan yang dapat dipakai dan yang tidak. Alangkah baik apabila hal tersebut dijalankan dengan baik sehingga tidak ada alih fungsi lahan yang merusak keseimbangan ekosistem. Hewan tidak mempunyai tempat hidup apabila hutan dirusak. Hutan Indonesia yang diketahui merupakan paru-paru dunia dapat berfungsi dengan baik apabila hukum ditegakkan.

Contoh peristiwa yang mengejutkan adalah Kota Pekanbaru yang dikepung asap karena adanya pembakaran hutan ilegal. Pekanbaru menjadi kota yang tidak layak dihuni karena asap yang melebihi batas aman. Hal ini tidak diperbolehkan terjadi kembali di lingkungan Indonesia. Apalagi diketahui bahwa asap tersebut sampai ke negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Betapa malunya Indonesia. 

Gambar 3. Limbah.
(health.detik.com, 2012)

Indonesia juga mempunyai aturan tentang limbah yang dihasilkan dari pabrik. Aturan tersebut juga harus ditegakkan agar limbah tidak mencemari lingkungan. Peristiwa yang terjadi di Teluk Buyat merupakan salah satu pencemaran yang sangat merugikan. Limbah akibat pertambangan emas mencemari teluk tersebut sehingga masyarakat mengalami masalah kesehatan. Perusahaan harus mempunyai sertifikasi ISO 14000 sebelum berjalan yang setidaknya meminimalisir tindakan pencemaran.

Tidak hanya industri, masalah lingkungan juga terjadi karena masing-masing individu. Pertumbuhan penduduk membuat sampah semakin menumpuk di tingkat rumah tangga. Pertumbuhan volume sampah rumah tangga meningkatkan volume sampah tingkat nasional. Volume sampah yang semakin banyak dapat diatasi dengan adanya inovasi di bidang teknologi. Sampah dapat dijadikan sebagai sumber energi bagi Indonesia yang seiring dengan pertambahan penduduk juga perlu lebih banyak energi. Sampah juga dapat didaur ulang menjadi barang dengan nilai jual lebih tinggi sepeti tas, ember, dan lain-lain

Masalah yang mencuat adalah perlunya perlunya klasifikasi sampah organik dan non-organik. Tidak ada pelajaran tentang lingkungan di tingkat SD, SMP, maupun SMA. Pendidikan tentang lingkungan seharusnya ada di tiap tingkat, sama halnya seperti pendidikan kewarganegaraan. Pendidikan akan membuat masyarakat lebih mengerti akan pentingnya memisahkan sampah. Pendidikan akan lingkungan akan berguna untuk membentuk mindset pelajar untuk berinovasi demi lingkungan.

Gambar 3. Ilustrasi Ramah Lingkungan.
(tempo.co, 2013)

Perlu ada kesadaran terhadap lingkungan di setiap individu penduduk negara Indonesia. Industri, pemerintah, media, pendidikan, seluruh bagian dari Indonesia perlu mendukung adanya keseimbangan ekosistem dengan menjaga lingkungan. Perlu diingat, lingkungan Indonesia merupakan paru-paru dunia. Lingkungan ada di tangan penduduk Indonesia. MARI KITA JAGA DAN LESTARIKAN LINGKUNGAN INDONESIA BERSAMA-SAMA!

Pangan Lokal Menghadapi ASEAN Economic Community 2015



Tahun 2000 merupakan salah satu momentum penting bagi industri di Indonesia, salah satunya bidang pangan. Sebelum tahun 2000, banyak mahasiswa yang sesudah lulus dari universitas ingin menjadi karyawan di pemerintahan maupun perusahaan swasta. Zaman berubah dan pemikiran masyarakat pun mulai berkembang. Setelah tahun 2000, mahasiswa mulai merubah cita-cita menjadi wirausaha.

Wirausaha merupakan pekerjaan yang sangat dibutuhkan bagi negara Indonesia. Masyarakat zaman dahulu menyatakan bahwa banyak anak banyak rezeki. Hal ini menyebabkan pertumbuhan penduduk melaju pesat di saat negara belum siap. Untungnya ada program Keluarga Berencana yang berhasil digalangkan pemerintah. Namun jumlah penduduk Indonesia yang sudah terlanjur banyak, mencapai lebih dari dua ratus juta orang, menjadikan Indonesia kurang lapangan pekerjaan yang menyebabkan banyak masyarakat hidup tanpa pekerjaan. Pengangguran merupakan salah satu masalah yang harus dibasmi. Menciptakan wirausaha merupakan jalan terbaik untuk mengatasi masalah pengangguran.

Tahun 2010, bukan hanya sarjana saja yang menjadi wirausaha, mahasiswa pun mulai merintis usaha pada saat kuliah, bahkan pelajar sudah melakukan hal yang sama. Banyak usaha yang dirintis merupakan bisnis makanan yang menggunakan modal sedikit dengan keuntungan menggiurkan. Bisa kita lihat di kehidupan sehari-hari, banyak sekali UKM bermunculan dengan basis makanan. Disadari atau tidak, banyak dari antara usaha tersebut tidak memakai bahan baku asli Indonesia. Kebanyakan usaha merupakan pengolahan makanan dengan kiblat negara Barat.

Tahun depan, 2015, banyak masyarakat yang belum mengetahui bahwa akan ada ASEAN Economic Community. Apa yang dimaksud dengan ASEAN Economic Community atau yang bisa disingkat dengan AEC? Drs. Subagio, MS sebagai ketua umum Bakohumas (Badan Koordinasi Kehumasan Pemerintah) dalam acara sosialisasi ASEAN Economic Community di Hotel Acacia, Jakarta (29/3/2011) menyatakan bahwa konsep utama dari AEC atau Masyarakat Ekonomi ASEAN adalah menciptakan ASEAN sebagai sebuah pasar tunggal dan kesatuan basis produksi dimana terjadi free flow atas barang, jasa, faktor produksi, investasi dan modal serta penghapusan tarif bagi perdagangan antar negara ASEAN yang kemudian diharapkan dapat mengurangi kemiskinan dan kesenjangan ekonomi diantara negara-negara anggotanya melalui sejumlah kerjasama yang saling menguntungkan.

Tidak adanya tarif untuk distribusi dapat menguntungkan karena produk dapat tersebar lebih luas. Produk pangan dari banyak UKM dapat dikenal tidak hanya di Indonesia, namun di ranah ASEAN seperti Singapura dan Malaysia. Penghapusan tarif juga dapat menjadi kerugian bagi Indonesia. Produk luar dapat masuk ke Indonesia dengan mudah sehingga persaingan semakin ketat. Apalagi produk UKM yang kebanyakan menciptakan makanan yang jenisnya hampir sama dengan luar negeri. Satu-satunya yang dapat menyelamatkan produk Indonesia dalam menghadapi hal ini adalah produk lokal. Banyak pangan lokal yang tidak ada di luar negeri seperti lumpiah, pisang hijau, dan dodol.

Tidak ada negara lain yang menciptakan pangan lokal seperti Indonesia karena kurangnya bahan baku seperti rempah-rempah. Masyarakat Indonesia perlu diberi edukasi bahwa pangan lokal lebih berkualitas dan menguntungkan daripada pangan luar, terutama fast food. Edukasi dapat dilakukan dengan mengadakan banyak bazaar khusus pangan lokal yang dilakukan berbagai UKM di banyak kota Indonesia. Menurut saya, tindakan pemerintah pada tahun 2014 yang fokus pada pengembangan pangan lokal sudah baik dan perlu ditingkatkan agar tidak tergeser dengan pangan dari negara lain. UKM perlu dibina untuk dapat memberikan edukasi dengan cara yang lebih fun dan inovatif.

Masalah lain adalah adanya penggunaan bahan tambahan bukan untuk produk pangan. Pangan lokal kurang dipercayai oleh pasar dalam negeri karena adanya fakta bahwa bahan tambahan yang sebenarnya tidak dianjurkan, dipakai untuk pembuatan makanan. Bahan tambahann tersebut antara lain boraks, formalin, dan pewarna tekstil. UKM perlu dibina untuk tidak menggunakan bahan-bahan tersebut karena menimbulkan banyak efek samping bagi konsumen yang nantinya akan menurunkan tingkat kepercayaan. Ketidaktahuan UKM mengenai bahan yang dipakai juga dapat terjadi. Maka dari itu, edukasi tidak hanya digalangkan untuk konsumen, juga untuk produsen.

Sanitasi juga merupakan hal yang penting untuk diperhatikan. Pasar dalam negeri tidak percaya dengan pangan lokal karena sanitasi yang kurang baik. Bisa kita lihat bahwa banyak pedagang makanan yang menjajakan barang jualannya di tepi jalan tanpa pelindung. Makanan tersebut dapat tercemar oleh timbal yang dihasilkan asap knalpot kendaraan bermotor. Hal ini dapat dicegah dengan sanitasi yang baik. Bagaimana cara meningkatkan kepedulian UKM? Edukasi kembali menjadi jawaban atas masalah ini.

Edukasi tidak dapat dilakukan dengan mudah. Sosialisasi sekali dua kali saja tidak cukup. Maka dari itu perlu dibentuk adanya himpunan UKM yang sudah ada di beberapa tempat. Himpunan ini memang perlu dibentuk. Selain untuk menambah network, himpunan ini juga dapat dijadikan sebagai sarana untuk melakukan edukasi. Sharing dan pelatihan dapat dilakukan dengan lebih mudah dan murah sehingga tercipta UKM yang lebih mengerti tentang sanitasi dan keamanan pangan. Pelatihan yang dilaksanakan antara lain Good Manufacturing Practices (GMP), Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP), dan Sanitation Standard Operation Procedures (SSOP).  Profesional dalam bidang pangan dapat membantu dalam melaksanakan berbagai acara dari himpunan UKM.

Cara lain untuk menambah kepercayaan pasar dalam negeri adalah dengan adanya sertifikasi. Lebih dari 90% penduduk Indonesia beragama Islam. Hal ini menunjukkan bahwa sertifikasi Halal perlu dilakukan apabila memang memenuhi syarat agar semakin banyak masyarakat yang yakin untuk membeli produk pangan lokal. Sertifikasi Halal tidak mengeluarkan banyak biaya administrasi dan bisa dimasukkan ke dalam perhitungan produksi.

Selain sertifikat Halal, masyarakat Indonesia juga memperhatikan sertifikasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan. UKM juga harus dibina untuk memperoleh sertifikasi tersebut. Apabila UKM sudah mulai maju, sertifikasi lain seperti ISO juga perlu diambil agar masyarakat lebih yakin terhadap perusahaan yang dibangun. Tidak hanya untuk pasar dalam negeri, sertifikat ISO berlaku internasional. Hal lain yang perlu dihimbau adalah limbah yang dihasilkan oleh perusahaan pangan lokal agar tidak mencemari lingkungan tanah kita tercinta, Indonesia.

I Want and I Will Be

Let me introduce myself first. My name is SuryaMP. You can call me Surya. I am from Bandung, Indonesia. I am 21 years old. Now I study in Universitas Padjadjaran, Food Industrial Technology major.

I want to be a future leader. One of the reason why I chose my major is that I want to be a CEO of a high quality food business. I do not want to be a person who has a flat life, wakes up in the morning, goes to the office, comes back home, all over again everyday for more than a half of my life? No! I want to have a challenging life, pushes myself hard to inovate and be creative. I also want to help a lot of people. When I become a CEO, I will open a lot of job opportunities to many people, and that is a good activity.

I am really interested in xxx’ background. Students always want to learn, business leaders want to share, and together can make impact for the nation’s greatness. I believe that xxx will help me to achieve my goal to make impact to a lot of people, especially Indonesia. I WANT AND I WILL BE!

----------------------------------------------------------------------------------


“When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it”

– Paulo Coelho

Wednesday, 21 May 2014

BNI Simponi Merajut Masa Pensiun di Masa Muda

Masa muda merupakan masa-masa yang indah ketika manusia mendapatkan banyak hal baru. Saat-saat ketika manusia perlu untuk berani menentukan pilihan untuk masa depan. Remaja yang lulus SMA menentukan jurusan yang akan dipilih. Mahasiswa yang lulus menentukan karir yang akan di tempuh. Banyak yang berhasil, tak sedikit yang gagal. Ya, memang begitulah hidup yang kita jalani.

Masalah yang terjadi adalah terlalu cepatnya anak muda dalam menentukan keputusan yang diambil. Terkadang anak muda menghiraukan nasehat orang tua yang sebenarnya lebih berpengalaman. Banyak anak muda yang hanya memikirkan jalan hidup maksimal 3 sampai 4 tahun ke depan. Bagaimana nasib anak muda 30 sampai 40 tahun ke depan?

Bagi yang sudah berpenghasilan mungkin biaya hidup sudah tercukupi. Namun bagaimana bila mulai berkeluarga? Ada biaya rumah yang harus dicicil, kendaraan yang dikredit, dan lain-lain. Apalagi apabila sudah mempunyai anak. Biaya hidup lebih besar lagi. Mungkin dengan bekerja lebih keras, uang yang didapat akan lebih banyak. Apakah kita pernah berpikir bahwa terjadi inflasi di semua bidang?

Inflasi merupakan masalah besar yang harus dihadapi semua orang. Manusia hanya bisa berharap akan adanya rezeki yang lebih dengan kenaikan tingkat dalam karir. Manusia tetap harus berpikir bagaimana bila sesuatu yang buruk terjadi seperti kebangkrutan dalam bisnis maupun bencana alam yang dapat melanda semua orang. Termasuk pengeluaran di saat tua nanti sedangkan dana pensiun hanya pada beberapa karir saja.

Semua dapat ditangani apabila kita mempunyai perencanaan keuangan yang benar. Uang yang telah kita punya dapat berubah wujud dalam bentuk investasi baik itu emas, tanah, dan lain-lain. Adanya investasi dengan laju kenaikan bersamaan dengan inflasi semua bidang membuat “nilai” dari investasi di masa lalu hampir sama dengan masa datang. Contohnya apabila kita membeli rumah tanah seharga 300 juta di masa kini. Harga 300 juta masa kini sama dengan membeli minibus 2 buah. Di masa datang, tanah tersebut dapat berharga 500 juta. Mengapa harga tanah naik? Hal ini terjadi karena adanya inflasi di berbagai bidang termasuk otomotif. Harga 500 juta di masa depan akan hampir sama dengan harga minibus dua buah.

Berbeda apabila kita mempunyai uang. Apabila kita mempunyai uang 300 juta sekarang, kita bisa mendapatkan minibus 2 buah. Apabila uang tersebut kita simpan, di masa yang akan datang kita hanya akan mendapatkan 1 buah minibus. Peristiwa ini merupakan salah satu hal penting yang harus diketahui dan diperhatikan sejak muda.

Salah satu solusi yang dapat dipakai mulai dari masa muda adalah BNI Simponi. SIMPONI (Simpanan Pensiun Bank BNI) adalah layanan program pensiun DPLK BNI untuk dapat dimanfaatkan masyarakat luas yang ingin meningkatkan kesejahteraan dan kebahagiaan keluarga di masa depan. Siapa pun dapat ikut program ini. Keuntungan yang kita dapat adalah “nilai” yang lebih di masa yang akan datang. Iuran bulanan tejangkau mulai dari Rp 50.000 rupiah saja yang sangat terjangkau apabila dibandingkan bila harus membeli emas yang 1 gram saja mencapai Rp 500.000.

Syarat untuk menjadi peserta Simponi sangat mudah. Datanglah ke Kantor Cabang BNI terdekat membawa fotocopy KTP dan mengisi aplikasi sesuai dengan identitas diri serta menyetor iuran awal minimal sebesar Rp 250.000. Marilah kita bersama-sama dengan BNI Simponi merajut masa pensiun di masa muda! Informasi lebih lanjut, klik http://bit.ly/BNI_Simponi

Friday, 9 May 2014

Mas Miun for AFTA 2015

Redaksi Foodpedia kali ini mewawancarai salah satu akang dari jurusan sebelah, TMIP yang terkenal dengan produk lumpiahnya. Ya, siapa lagi kalau bukan Kang Ananda Rizky atau yang biasa dipanggil Kang Nanda. Kang Nanda mengikuti PKM-K dan bisnis “Lumpiah Mas Miun” berhasil dibiayai. WOW. Berikut hasil wawancara kami dengan Kang Nanda mengenai AFTA (ASEAN Free Trade) 2015. 


Q: Kang, AFTA itu apa sih?
A: AFTA itu ASEAN Free Trade Area, atau bahasa Indonesianya Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN. Artinya, tidak ada lagi pajak dipakai untuk memasarkan barang dari satu negara ke negara lain untuk kawasan Asia Tenggara.

Q: Apakah Akang setuju dengan adanya AFTA?
A: Ya, setuju. AFTA akan membuat orang-orang Indonesia lebih kreatif karena ada tekanan. Bila banyak produk masuk ke Indonesia dan tidak bisa kita tahan, kita bisa mati. Indonesia perlu diberi tekanan karena tanpa hal itu, biasanya kita akan tenang-tenang saja. Indonesia perlu AFTA supaya tidak manja lagi.

Q: Bagaimana cara mengembangkan kreatifitas?
A: Kreatif timbul karena dua hal, tekanan dan hobi. Kita harus kreatif dengan mengubah sistem yang telah ada atau diversifikasi produk.

Q: Bagaimana produk pangan Indonesia dapat menghadapi AFTA?
A: Kita harus memproduksi pangan yang berkualitas. Konsumen masa kini hanya mementingkan harga yang murah, rasa yang enak, dan Halal. AFTA akan membuat konsumen lebih pintar sehingga produsen butuh meningkatkan kualitas. Kualitas dapat diuji dengan adanya sertifikasi Halal, GMP (Good Manufacturing Practices), maupun HACCP (Hazar Analysis of Critical Control Point). Pemerintah sudah ada program untuk membantu UKM untuk mendapatkan sertifikat Halal secara gratis, namun masih kurang peminat. Sayang sekali. Sertifikat GMP dan HACCP belum digalangkan pemerintah. Mungkin setelah adanya AFTA, pemerintah akan lebih concern terhadap sertifikat tersebut, untuk sekarang, belum ada.

Q: Apakah sudah ada perkumpulan UKM di Indonesia?
A: Ya, ada. Saya ikut AIKMA (Asosiasi Industri Kecil Menengah Agro). Asosiasi ini ada di tingkat nasional, ada pula tingkat regionalnya. AIKMA berguna sekali untuk membina UKM dengan adanya seminar tentang teknik dan cara untuk meningkatkan keuntungan, serta pameran produk yang bekerja sama dengan Disperindag (Dinas Perindustrian dan Perdagangan).

Q: Apa UKM FTIP sudah berkembang?
A: Tentu saja. Sudah ada UKM binaan yang dilaksanakan di lingkungan FTIP.

Q: Pendapat akang tentang UKM di FTIP?
A: UKM di FTIP masih kecil. Kita harus membuat rencana bukan hanya untuk tahun sekarang dan tahun depan. Kita harus membuat rencana jangka panjang, hingga 5 sampai 10 tahun. Selain itu, kita juga harus taat dengan sertifikasi atau standardisasi yang ada di Indonesia. Technophreneurship harus menjadi basis kita sebagai Fakultas Teknologi Industri Pertanian.

Q: Menurut akang, bagaimana cara agar makanan tradisional Indonesia bisa berkembang di luar negeri?
A: Karena dipasarkan di negara lain, kita harus menjadikan makanan tradisional dapat dikirim jarak jauh. Artinya, umur simpan harus lebih lama, volume juga harus lebih kecil untuk menghemat biaya transportasi. Salah satu caranya adalah dengan menjadikan makanan tradisional kita berbentuk instan. Cara lain adalah dengan membuat kemasan yang modern sehingga masyarakat luar mudah tertarik.

Q: Pesan akang untuk pembaca Foodpedia?
A: Kita harus menjadi orang yang kreatif dan menghasilkan produk inovatif sehingga daya jual semakin tinggi. Kualitas produk harus ditingkatkan agar harga semakin melambung. Hal yang paling penting adalah mindset. Jangan berpikir bagaimana bila negara kita diserang produk luar. Yang harus kita pikirkan adalah bagaimana cara agar produk dalam negeri dapat bersaing baik di dalam bahkan di luar Indonesia.