Redaksi
Foodpedia kali ini mewawancarai salah satu akang dari jurusan sebelah, TMIP
yang terkenal dengan produk lumpiahnya. Ya, siapa lagi kalau bukan Kang Ananda
Rizky atau yang biasa dipanggil Kang Nanda. Kang Nanda mengikuti PKM-K dan
bisnis “Lumpiah Mas Miun” berhasil dibiayai. WOW. Berikut hasil wawancara kami
dengan Kang Nanda mengenai AFTA (ASEAN Free Trade) 2015.
Q: Kang, AFTA itu apa sih?
A: AFTA itu ASEAN Free Trade
Area, atau bahasa Indonesianya Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN. Artinya, tidak
ada lagi pajak dipakai untuk memasarkan barang dari satu negara ke negara lain
untuk kawasan Asia Tenggara.
Q: Apakah Akang setuju dengan
adanya AFTA?
A: Ya, setuju. AFTA akan membuat
orang-orang Indonesia lebih kreatif karena ada tekanan. Bila banyak produk
masuk ke Indonesia dan tidak bisa kita tahan, kita bisa mati. Indonesia perlu diberi
tekanan karena tanpa hal itu, biasanya kita akan tenang-tenang saja. Indonesia
perlu AFTA supaya tidak manja lagi.
Q: Bagaimana cara mengembangkan
kreatifitas?
A: Kreatif timbul karena dua hal,
tekanan dan hobi. Kita harus kreatif dengan mengubah sistem yang telah ada atau
diversifikasi produk.
Q: Bagaimana produk pangan Indonesia
dapat menghadapi AFTA?
A: Kita harus memproduksi pangan
yang berkualitas. Konsumen masa kini hanya mementingkan harga yang murah, rasa
yang enak, dan Halal. AFTA akan membuat konsumen lebih pintar sehingga produsen
butuh meningkatkan kualitas. Kualitas dapat diuji dengan adanya sertifikasi
Halal, GMP (Good Manufacturing Practices), maupun HACCP (Hazar Analysis of
Critical Control Point). Pemerintah sudah ada program untuk membantu UKM untuk
mendapatkan sertifikat Halal secara gratis, namun masih kurang peminat. Sayang
sekali. Sertifikat GMP dan HACCP belum digalangkan pemerintah. Mungkin setelah
adanya AFTA, pemerintah akan lebih concern
terhadap sertifikat tersebut, untuk sekarang, belum ada.
Q: Apakah sudah ada perkumpulan
UKM di Indonesia?
A: Ya, ada. Saya ikut AIKMA
(Asosiasi Industri Kecil Menengah Agro). Asosiasi ini ada di tingkat nasional,
ada pula tingkat regionalnya. AIKMA berguna sekali untuk membina UKM dengan
adanya seminar tentang teknik dan cara untuk meningkatkan keuntungan, serta
pameran produk yang bekerja sama dengan Disperindag (Dinas Perindustrian dan
Perdagangan).
Q: Apa UKM FTIP sudah berkembang?
A: Tentu saja. Sudah ada UKM
binaan yang dilaksanakan di lingkungan FTIP.
Q: Pendapat akang tentang UKM di
FTIP?
A: UKM di FTIP masih kecil. Kita
harus membuat rencana bukan hanya untuk tahun sekarang dan tahun depan. Kita
harus membuat rencana jangka panjang, hingga 5 sampai 10 tahun. Selain itu,
kita juga harus taat dengan sertifikasi atau standardisasi yang ada di
Indonesia. Technophreneurship harus menjadi basis kita sebagai Fakultas
Teknologi Industri Pertanian.
Q: Menurut akang, bagaimana cara
agar makanan tradisional Indonesia bisa berkembang di luar negeri?
A: Karena dipasarkan di negara
lain, kita harus menjadikan makanan tradisional dapat dikirim jarak jauh. Artinya,
umur simpan harus lebih lama, volume juga harus lebih kecil untuk menghemat
biaya transportasi. Salah satu caranya adalah dengan menjadikan makanan
tradisional kita berbentuk instan. Cara lain adalah dengan membuat kemasan yang
modern sehingga masyarakat luar mudah tertarik.
Q: Pesan akang untuk pembaca
Foodpedia?
A: Kita harus menjadi orang yang
kreatif dan menghasilkan produk inovatif sehingga daya jual semakin tinggi.
Kualitas produk harus ditingkatkan agar harga semakin melambung. Hal yang
paling penting adalah mindset. Jangan berpikir bagaimana bila negara kita
diserang produk luar. Yang harus kita pikirkan adalah bagaimana cara agar
produk dalam negeri dapat bersaing baik di dalam bahkan di luar Indonesia.

No comments:
Post a Comment