Setiap manusia memiliki dua
potensi pikiran, yaitu pikiran rasional dan pikiran emosional. Pikiran rasional
digerakkan oleh kemampuan intelektual atau yang popular dengan sebutan “Intelligence Quotient” (IQ), sedangkan
pikiran emosional digerakkan oleh emosi (Goleman, 1995). EQ merupakan
serangkaian kemampuan mengontrol dan menggunakan emosi, serta mengendalikan
diri, semangat, motivasi, empati, kecakapan sosial, kerja sama, dan
menyesuaikan diri dengan lingkungan (Misbach, 2013).
Dunia
pendidikan kebanyakan menjadikan IQ sebagai tolak ukur utama.
Pelajaran-pelajaran yang diajarkan memang merupakan penerapan untuk
meningkatkan IQ seseorang. Penerapan EQ dalam pendidikan juga sudah dijalankan
dengan adanya komunitas atau organisasi. EQ terkadang tidak dijadikan tolak
ukur, terbukti dengan adanya Ujian Nasional yang menjadi satu-satunya syarat
kelulusan. Kesuksesan seseorang sebenarnya tidak hanya diukur oleh IQ saja, EQ
terbukti lebih berpengaruh.
Tidak hanya IQ dan EQ saja yang perlu dibina, ada pula Spiritual Quotient (SQ). SQ adalah kecerdasan yang berperan sebagai landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif (Misbach, 2013). Penerapan SQ juga sudah diterapkan dengan adanya organisasi untuk masing-masing agama di sekolah dan kampus.
Penerapan sudah dijalankan dengan baik. Hal yang perlu dibenahi adalah bagaimana cara agar orang-orang dapat menyeimbangkan IQ, EQ, dan SQ melalui dunia pendidikan. Ada baiknya setiap pribadi yang ada di dunia pendidikan, terutama yang dijadikan panutan, dapat memberi contoh dan mampu menasihati dengan cara yang baik. Hal yang paling penting adalah adanya kasih tanpa pamrih untuk membimbing dan saling belajar dalam berbagai aspek kehidupan.
Daftar Pustaka:
Goleman, Daniel. 1995. Why It can
Matter more than IQ. New York: Bantam Books.
Misbach, Ifa Hanifah. 2008.
Antara IQ, EQ, dan SQ. Bandung: Jurusan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Pendidikan Indonesia.
No comments:
Post a Comment